Merah Putih Raksasa Berkibar di Markas Kapten Bongsu Pasaribu

Tapteng, (Warta Viral) – Memeriahkan Hari Kemerdekaan ke-74 tahun, warga masyarakat Desa Suga-Suga Hutagodang, Kecamatan Pasaribu Tobing, Kabupaten Tapanuli Tengah bergotong-royong mengibarkan bendera merah putih raksasa di puncak Gunung Bukit Barisan atau di Sinar Dolok Sigordang (Sidos), tepatnya di markas perjungan Kapten Bongsu Pasaribu, Selasa (13/8/2019).

Pengibaran benderah Merah Putih dilakukan cucu Kapten Bongsu Pasaribu dan masyarakat bertujuan untuk mengenang gugurnya Kapten Bongsu Pasaribu, Pahlawan Kemerdekaan asal Tapanuli akibat dipancung belanda pada tanggal 3 Maret 1949 di Barus.

Riduan Hamza Pasaribu cucu Kapten Bongsu Pasaribu

“Pengibaran sang saka merah putih ini atas inisiatif kami bersama warga Desa yang dijadwalkan dilakukan sebelum puncak hari kemerdekaan,” ujar Riduan Hamzah Pasaribu cucu Kapten Bongsu Pasaribu kepada Warta Viral, Selasa (13/8/2019).

Di Dalam isinya buku sejarah Jenderal TNI Maraden Saur Halomoan Panggabean berjudul “Berjuang dan Mengabdi” menyebutkan, serangan terakhir yang dilakukan Kapten Bongsu Pasaribu adalah pada permulaan bulan Maret 1949, dan tidak sedikit jumlah korban yang jatuh dipihak Belanda.

Belanda tampaknya bernapsu sekali menangkapnya, karena dia yang dianggap penggerak utama dari perlawanan di sekitar daerah Sorkam dan Barus. Karena Kapten Bongsu dalam Patroli mereka sangat rapat dan intensif.

“Saya sangat kesal dan sedih, dua atau tiga minggu kemudian saya mendapat laporan, bahwa patroli Belanda menyergap Kapten Bongsu Pasaribu. Secara biadab, kepala Kapten Bongsu Pasaribu dipancung dan kemudian dipertontonkan keliling Barus, suatu hal yang sebenamya tidak masuk akal dilakukan suatu bangsa yang tinggi peradabannya seperti Belanda,”Tulis Maraden Panggabean dalam bukunya.

Maraden Panggabean mengatakan, Kapten Bongsu Pasaribu teman seperjuangannya pada Tahun 1946, mereka sama sama menyandang Pangkat Kapten. Kapten Bongsu Pasaribu Kepala Staf Batalyon TRI dengan pangkat Kapten pimpinan Mayor Pandapotan Sitompul dengan wakilnya Letnan Muliater, Simatupang.

Sedangkan Maraden Panggabean menjabat Kepala Staf Resimen I Divisi VI Sumatra berkedudukan di Sibolga.

SAKSI MATA: BARUS PERNAH JADI LAUTAN API

Kisah sejarah seputar tewasnya Kapten Bongsu Pasaribu, Komandan Batalyon Harimau Mengganas, di Harakka, Barus, tanggal 3 Maret 1949 silam, mendapat sejumlah respon tokoh masyarakat yang menceritkan kepahlawanan Bongsu Pasaribu salah satunya datang dari H Masnudin Tanjung (80), warga Jalan Perumnas Padang Masiang Barus, mengungkapkan fakta-fakta sejarah di Barus yang belum banyak terekspos.

“Data sejarah soal tewasnya Kapten Bongsu Pasaribu perlu dilengkapi. Saya baca Kepala Kapten Bongsu dipenggal dan ditenteng oleh tentara Belanda. Yang sebenarnya bukan hanya itu, setelah dipenggal, kepala Kapten Bongsu itu ditusuk dengan tombak dan ditenteng di atas tombak itu ke Onan Barus.

Dan ada lagi fakta lain yang belum ditulis, yakni Barus pernah menjadi lautan api,” jelas mantan Tentara Pelajar ini. Warga Barus ini mengatakan, tak hanya Bandung yang pernah menjadi lautan api. Barus pun pernah dan itu jarang dieskpos.

Pada masa Agresi II Belanda masa saat Kapten Bongsu tewas, ada sebuah malam yang tanggalnya dia tak ingat pasti tapi diyakininya masih bisa ditelusuri, di mana hampir separuh dari Kota Barus terbakar.

“Soal tanggal, saya harapkan Panitia Bedah Buku ‘Gugurnya Kapten Bongsu’ dapat membantu menelusurinya. Karena saya ini tak hafal tanggal-tanggal. Saya ingin hanya membantu panitia bedah buku, agar dapat melengkapi buku itu dengan fakta-fakta sejarah yang lebih dahsyat pada masa itu.

Saya khusus datang dari Barus untuk membantu panitia,” jelasnya bersemangat. Ia mengisahkan, pada suatu malam di masa Agresi II Belanda, ada sekelompok orang yang membakar Kota Barus, dimulai dengan membakar bekas Tangsi Belanda pada pukul 7 malam.

“Mereka (ini istilah Pak Masnudin) mulai membakar tangsi Belanda, Rupanya, di tangsi itu ada terkubur sejumlah granat dan bahan-bahan yang mudah meledak. Maka terdengarlah suara letusan keras di seluruh Kota Barus saat itu. Usai membakar tangsi Belanda, mereka membakar pesanggaran, kemudian kantor camat, rumah camat, Pasar Barus, hingga akhirnya separuh Kota Barus hangus terbakar,” lanjutnya.

Pagi harinya, datanglah pesawat terbang Belanda dan memberondong Kota Barus dengan peluru selama 2 jam. Beberapa waktu kemudian, Belanda bersama pihak Indonesia diwakili Dr Ferdinand FL Tobing menandatangani kesepakatan berakhirnya serangan di Tapanuli, dan Belanda pun mundur.

“Silahkan urut-urutkan masa-masanya, nanti akan dapat tanggalnya,” sarannya. Terkait rencana Panitia Bedah Buku ‘Gugurnya Kapten Bongsu Pasaribu’ yang akan menggelar dialog interaktif di Desa Suga-suga Kecamatan Pasaribu Tobing Tapteng, tempat kelahiran sang kapten, Pak Tanjung mengatakan, lebih tepat jika digelar di Barus, di lokasi tewasnya Kapten Bongsu.

Untuk itu, ia berharap dapat berjumpa dengan panitia, untuk melengkapi data-data sejarah sekaligus memberikan sumbang saran yang positif demi pengungkapan sejarah. (Rekson Hermanto)

Facebook Comments

admin

wartaviral.com diterbitkan berdasarkan undang undang Pers nomor 40 tahun 1999 oleh PT Nasional Tritunggal Jayautama yang berlokasi di Jl. Perintis Kemerdekaan No 34, RT 01,RW 06, Kecamatan Kelapa Gading, RT.1/RW.6, Klp. Gading Tim., Jakarta Utara, DKI Jakarta, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240.