Upacara Kemerdekaan di Goa Sijurung Gunung Bukit Barisan

Tapteng, (Warta Viral) – Banyak cara kreatif yang dilakukan masyarakat memeriahkan 17 Agustus 2019. Mulai dari aneka kegiatan permainan dan lomba tradisional, olahraga, karnaval, hingga kegiatan ekstrem dan penuh tantangan seperti pengibaran bendera merah putih di tebing-tebing tinggi, puncak-puncak gunung, dan kedalaman laut.

Untuk warga masyarakat Desa Suga Suga Hutagodang, Kecamatan Pasaribu Tobing (Pastob), Tapanuli Tengah (Tapteng) Sumatera Utara melakukan upacara kemerdekaan di dalam Goa Sijurung di dpuncak Gunung Bukit Barisan atau di Sinar Dolok Sigordang (Sidos), tepatnya di markas perjungan Kapten Bongsu Pasaribu.

Upacara di Goa Sijurung dihadiri puluhan Ibu-ibu PKK, Tokoh Agama, Tokoh Adat dan masyarakat Kecamatan Pasaribu Tobing.
Para Ibu – Ibu tak lupa membawa makanan tradisional berupa Lemang untuk acara makan makan di dalam Goa menirukan tradisi sejarah pengungsi saat penjajahan Belanda.

“Tahun 80an acara memperingati Kapten Bongsu Pasaribu dilakukan melalui pesta tari tarian adat dan drama Perjuangan Bongsu yang diprankan para anak anak muda dan para cucu Bongsu,” ujar Situmeang Tokoh Masyarakat kepada Warta Viral, Sabtu (17/8/2019).

Menurut Situmeang, acara ini dilakukan untuk menggangkat kembali perjuangan Bongsu Pasaribu yang telah dilupakan oleh pemerintah. Dengan momen ini, kita berharap agar Bupati tau siapa pahlawan Tapanuli Tengah, ujarnya.

Lomba-lomba Agustusan menjadi salah satu yang dinanti tidak hanya anak-anak, namun juga orang dewasa baik laki-laki perempuan.
Peringatan 17 agustusan ini adalah untuk mengenang sejarah Kapten Bongsu Pasaribu adalah salah satunya Pahlawan Kemerdekaan Indonesia asal Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. semasa hidupnya, Kapten sangat terkenal di masyarakat Tapanuli dengan julukan Komandan Harimau Mengganas Tapanuli (Kesatuan).

Beliau gugur dipenggal Belanda di Harakka, Barus, tanggal 3 Maret 1949. Sayangnya, kisah perjuangan beliau belum diabadikan oleh pemerintah pusat dan daerah.

Menurut Jenderal TNI Maraden Saur Halomoan Panggabean dalam bukunya berjudul Berjuang dan Mengabdi mengatakan, pada Tahun 1946, pangkatnya saat itu satu letting sama sama Kapten dengan Bongsu Pasaribu. Maraden Panggabean pangkatnya naik satu tingkat menjadi Mayor, menjabat Kepala Staf Resimen I Divisi VI Sumatra berkedudukan di Sibolga.

Sedangkan Bongsu Pasaribu Kepala Staf Batalyon TRI dengan pangkat Kapten pimpinan Mayor Pandapotan Sitompul dengan wakilnya Letnan Muliater, Simatupang ditugaskan untuk menjaga derah Barus dan Sorkan yang sewaktu RE & RA tidak masuk dalam formasi lagi. Setelah di Sorkam – Barus mereka ini di rencanakan segera dikonsentrasikan di Sibolga kembali, ujarnya Maraden.

“Serangan terakhir yng dilakukan Kapten Bongsu Pasaribu adalah pada permulaan bulan Maret 1949, dan tidak sedikit jumlah korban yang jatuh dipihak Belanda. Belanda tampaknya bernapsu sekali menangkapnya, karena dia yang dianggap penggerak utama dari perlawanan di sekitar daerah tersebut. Karena Kapten Bongsu dalam Patroli mereka sangat rapat dan intensif,tulis Maraden.

Saya sangat kesal dan sedih, dua atau tiga minggu kemudian saya mendapat laporan, bahwa patroli Belanda menyergap Kapten Bongsu Pasaribu. Secara biadab, kepala Kapten Bongsu Pasaribu dipancung dan kemudian dipertontonkan keliling Barus, suatu hal yang sebenamya tidak masuk akal dilakukan suatu bangsa yang tinggi peradabannya seperti Belanda, ujar Maraden Panggabean (Rekson Hermanto)

Facebook Comments

admin

wartaviral.com diterbitkan berdasarkan undang undang Pers nomor 40 tahun 1999 oleh PT Nasional Tritunggal Jayautama yang berlokasi di Jl. Perintis Kemerdekaan No 34, RT 01,RW 06, Kecamatan Kelapa Gading, RT.1/RW.6, Klp. Gading Tim., Jakarta Utara, DKI Jakarta, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14240.